2011
03.04

sebuah pepatah Jerman mengatakan „Eltern werden ist einfach, Eltern zu sein ist schwierig“ (menjadi orangtua adalah mudah tapi berperan sebagai orangtua adalah lebih sulit)

Singkirkan lingkar hitam Mata Tanpa Operasi

2011
03.03

Saat kelelahan atau kurang tidur, di area bawah mata Anda biasanya akan muncul lingkaran hitam (dark circle). Tentu hal ini akan menimbulkan kesan tertentu pada wajah, misalnya akan terlihat lebih tua dari usia Anda yang sebenarnya.

Tetapi, jangan khawatir. Banyak cara tanpa operasi untuk mengatasi masalah ini. Ikuti langkah-langkah pengobatan alami untuk menyingkirkan lingkaran hitam di bawah mata berikut ini, dikutip dari Times of India.

- Parut beberapa kentang mentah, lalu rendam kapas ke dalam parutan itu. Tutup mata Anda, kemudian tempatkan kapas ke mata Anda. Pastikan kapas yang Anda tempelkan tadi menutupi seluruh lingkaran hitam di bawah mata serta kelopak mata. Biarkan selama 10 menit, setelah itu bilas dengan air dingin.

- Atau, oleskan campuran satu sendok teh tomat dan air jeruk nipis ke sekitar mata. Lakukan dua kali sehari.

- Cara lain, minum segelas jus tomat dengan beberapa daun mint, air jeruk nipis, dan garam. Minum sehari dua kali ini sebagai minuman segar. Selain mengatasi lingkaran hitam, manfaat jus ini juga untuk mencerahkan wajah.

- Bisa juga dengan menyiapkan pasta dari empat hingga lima almond dengan susu. Oleskan pasta di sekitar lingkaran hitam, kemudian biarkan selama 10 sampai 15 menit. Pasta akan membantu meringankan beban kulit sekitar mata.

- Ada lagi, campurkan beberapa sendok teh jus nanas segar bersama sejumput bubuk kunyit, bila dioleskan di sekitar mata secara teratur akan membantu Anda menghilangkan lingkaran hitam.

- Jangan lupa pula, setiap malam sebelum tidur, oleskan krim yang mengandung vitamin E dan C di sekitar mata.

- Terakhir, bisa dengan meletakkan beberapa daun mint di sekitar mata. Hal ini akan bermanfaat untuk memberikan efek pendinginan pada mata yang lelah. (umi)

Sumber: Vivanews

Mantan Copet

2011
03.03

Kolaborasi 2 sahabat Penulis: Muhammad Saleh & Sam Edy Yuswanto

“Copeeeeet…!! Copeeeeet…!!”

Suara teriakan seorang wanita membuat seluruh penumpang bus kaget. Refleks mereka menoleh ke sumber suara. Aku yang tak menyangka aksiku kali ini akan ketahuan langsung nekat melompat turun dari bus yang sedang melaju, karena wanita itu menuding-nuding ke arahku. Aku tak ingin babak belur dihajar massa, seperti yang dialami temanku seminggu lalu, yang kepergok saat mencoba mengiris tas seorang wanita dengan silet yang disampirkan di bahu, di sebuah pasar tradisional.

Aku terus berlari. Tak kupedulikan kakiku yang agak sakit, karena saat melompat tadi, aku jatuh tergelincir karena tubuhku yang tak seimbang saat tepat menginjak aspal.

Beruntung jalanan agak sepi, hanya beberapa orang di pinggir jalan yang melihat aku melompat. Mungkin mereka juga mendengar suara teriakan tadi, tapi toh mereka tak peduli. Mereka tak mengejarku. Orang-orang dalam bus juga sama, tak ada yang mengejar. Mungkin mereka takut melompat, atau mereka sudah tahu aku tak berhasil menggasak dompet wanita itu, sehingga tak perlu mengejarku.

***

Kuhentikan langkah setelah kurasa aman, walau kutahu dari tadi tak ada yang mengejarku. Namun perasaan takut yang membuatku terus berlari. Takut akan kematian, juga takut akan penjara kalau sampai tertangkap. Namun aku sadar, inilah resiko pekerjaanku.

Kusandarkan punggung pada pohon ketapang di sisi jalan yang sengaja ditanami untuk penghijauan. Kuatur nafas yang memburu, dengan degup jantung yang tak kalah cepat. Hawa panas langsung menyergap tubuhku yang kurus, hitam dan agak dekil. Keringat panas telah membanjir membasahi baju kumal yang kukenakan.

Sial! Rutukku kesal. Hari ini tak dapat apa-apa. Padahal sudah setengah hari kulalui. Bagaimana mungkin bisa makan siang ini kalau tak ada uang sepeserpun yang kudapat?

Kulirik kanan-kiri badan jalan, melihat-lihat mungkin ada orang yang bisa dijadikan sasaran. Paling tidak, dapat untuk makan siang ini. Sepi. Cuma ada beberapa orang yang sedang berdiri di pinggir jalan. Mungkin mereka tengah menunggu angkot. Dari penampilan mereka aku dapat menebak, tak ada yang bisa diambil dari mereka.

Wajah Emak dan adik-adikku tiba-tiba datang menyeruak di pikiranku. Terbayang wajah tirus Emak yang kurus, yang saat ini sedang menungguku membawa seliter beras untuk dimasak siang ini. Wajah dua adik kecilku, Doni dan Desy yang merengek-merengek minta makan, mereka tak sanggup menahan rasa lapar yang mendera, melilit-lilit perut. Kalau sudah begitu, Emak pasti akan berusaha menenangkan.

“Sabar…, bentar lagi nasinya matang….,” dusta Emak seraya membuka tutup panci yang airnya mendidih menggelegak-gelegak, berisi sebungkah batu di dalamnya. Sampai kapanpun batu itu tak akan menjadi bubur. Walaupun air itu ditambah dengan airmata Emak yang menetes ke dalam panci. Ya, Emak terpaksa memasak batu, semata agar kedua adikku mengira Emak tengah menanak nasi, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh seorang perempuan pada masa khalifah Umar bin Khattab, yang terpaksa memasukkan bebatuan ke dalam panci, untuk menghibur anaknya yang terus menangis kelaparan.

Haahh!

Kuhela nafas panjang, untuk sekedar meringankan beban pikiranku. Semenjak Abah pergi, aku yang menjadi tulang punggung keluarga. Dan tak ada yang bisa kulakukan selain mencopet. Bekerja? Tak ada yang mau menerima orang tak berpendidikan sepertiku. Jadi buruh kasarpun aku tak sanggup. Tubuhku kecil, otomatis tenagaku juga tak seberapa. Sehingga banyak mandor yang langsung memecat, karena untuk mengangkat se-sak semen saja, aku harus minta bantuan yang lain.

Seandainya Emak tahu, apa yang dimakannya selama ini adalah hasil uang haram, mungkin Emak tak akan pernah mau menyentuhnya. Karena aku masih ingat pesan Emak ketika aku masih kecil.

“Darah yang mengalir, dan daging yang melekat di tubuh, kalau diberi makan dengan yang haram, hanya neraka yang pantas menikmatinya…,” tutur Emak lembut, sambil membelai rambut kusamku. Kala itu aku hanya mengangguk tanpa mengerti maksudnya.

Namun, kini setelah aku dapat menafsirkan pesan Emak, justru aku sendiri yang tak mampu mengelak. Aku tak mampu menghidupi Emak, selain dari penghasilanku mencopet. Walaupun itu bertentangan dengan hati kecilku.

***

Saat aku hendak bangkit dari tempat duduk, dari sebelah kanan jalan muncul seorang kakek tengah menggandeng motornya yang mogok, mungkin mesinnya ngadat atau bannya bocor? Dari wajahnya yang berkeringat dapat kuperkirakan, mungkin kakek ini sudah jauh berjalan. Kakek itu berhenti sebelum melewatiku. Terlihat ia sedang mengatur nafasnya, mungkin sudah sangat kelelahan. Aku jadi kasihan melihatnya, hingga muncul niat di hati untuk membantunya

“Motornya kenapa, Kek?” aku bergerak mendekatinya yang sedang menyeka keringat dengan lengan bajunya. Kulihat ban depan dan belakang tak kenapa-napa. Sama sekali tak kempes.

Kakek itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaanku, “Kakek juga tidak tahu kenapa motor ini jadi mogok, Nak.”

“Sini biar saya bantu, Kek…,” tawarku langsung meraih motornya, dan menggiringnya ke sisi jalan, agar tak mengganggu lalu lintas. Setelah standar ganda kupasang, aku langsung memeriksa ke bagian mesin. Walaupun aku seorang pencopet, tapi sedikit-sedikit aku ngerti soal mesin, karena dulu aku pernah bekerja sebagai montir di bengkel Bang Maman, walaupun waktu itu aku masih baru belajar.

Sampai suatu hari, kejadian itu membuat aku harus hengkang dari pekerjaanku. Uang milik Bang Maman hilang di laci saat semuanya sedang makan siang. Dan aku yang pada waktu sedang ke toilet menunaikan hajat yang tak bisa ditunda, dituduh mencuri uang itu, karena cuma aku satu-satunya orang yang tak punya alibi kuat untuk mengelak.

Aku yakin sekali, uang itu dicuri sebelum makan siang. Hanya Bang Maman saja yang tak memeriksanya sebelum makan siang. Pada saat itu aku langsung dipecat, tanpa bisa membela diri. Seluruh gajiku tak dibayar, dengan alasan untuk mengganti uang yang hilang, walaupun gajiku itu masih kurang untuk menggantinya. Dan itulah awal dari jalan hitam hidupku.

“Gimana, Nak, apanya yang rusak?”

Suara serak Kakek itu menyentak lamun yang tengah berkelindan dalam benak.

“Sepertinya nggak ada yang bermasalah, kok,” terangku dengan kerut heran, setelah aku merasa yakin tak ada masalah dengan mesinnya. Busi-nya pun masih bagus, belum terlihat aus

“Ups! Sebentar, Kek,”

Dengan cekatan, segera kucabut kunci motor dan kumasukkan ke lobang kunci pembuka jok, di sebelah pinggir, bagian belakang. Dan setelah kubuka penutup bensinnya…

“Wah, bensinnya kering, Kek, pantesan…,”

Si Kakek menatapku dengan linglung.

“Waduh, gimana ini, Nak. Kakek sudah nggak punya uang. Barusan…., Kakek kecopetan saat berada di pasar wagean,” ucap si Kakek lirih seraya merundukkan wajah kisutnya.
Deg! Keterangan polos Kakek di hadapanku langsung telak menohok dadaku. Ah! Seruak rasa iba, entah datang dari kutub mana tiba-tiba saja langsung merembesi sekujur tubuhku. Bagaimana jika aku yang berada di posisi Kakek ini? Sungguh biadab orang yang telah mencopet lelaki serenta ini. Ooo, tunggu. Bukankah aku juga seorang pencopet yang telah membiasa, pula tanpa pernah merasa bersalah, menyilet tas, celana jeans para penumpang yang tengah duduk di jok-jok bus dalam posisi terkantuk-kantuk?

“Nak, tolong Kakek pinjami uang dulu, barang lima atau sepuluh ribu saja, sekedar buat ngisi bensin,” suara serak itu terdengar lagi, mengiba memohon pertolonganku.

Tenang, Kek. Tenang…, aku pasti akan menolongmu. Sebentar…

Lantas, dengan sigap aku merogoh saku celana jeans-ku. Dan…. ingatanku langsung mengutuh sempurna, saat berkali sudah kurogoh-rogoh semua saku celana, depan dan belakang, ternyata tak ada sepeser pun uang menyelip di dalam sana.

Ugh! Betapa tololnya diriku. Mengapa aku tak ingat, bukankah hari ini aku belum dapat apa-apa? Masih untung, aku bisa lolos dari amuk massa saat diteriaki wanita yang barusan gagal kucopet tadi. Tak bisa kubayangkan, bagaimana wajah keriput Emak beriak kecewa dengan berurai air mata saat menyaksikan putranya ini dengan kondisi babak belur serta tubuh remuk redam jika saja aku sampai tertangkap dan dihakimi massa barusan.

“Gimana, Nak,” suara serak si Kakek lagi-lagi membuyar lamunku.

“Sebentar, Kek, tunggu sini dulu, jangan kemana-mana,” jawabku lantas lekas melesat ke arah toko kelontong yang ada di seberang jalan sana. Aku pernah melihat, di toko kelontong yang tak begitu besar itu menyediakan bensin eceran.

Ya, aku memang tak punya uang, tapi aku masih punya KTP yang bisa kuserahkan pada pemilik toko kelontong itu, sebagai jaminan hutangku. Untunglah Bapak si pemilik toko tersebut bisa memercaya kesulitan yang kupaparkan dan tak merasa keberatan saat kumengatakan ingin berhutang bensin barang dua liter. Besok pagi, begitu janjiku melunasinya. Walau aku belum bisa memasti, apakah esok hari aku mampu melunasinya. Ah, itu masalah belakangan.

“Ini Kek, dua liter cukup, kan?” seraya membuka besi bundar penutup bensin dan memasang torong plastik; tempat yang digunakan untuk menuang bensin.

“Waduh, sebenarnya satu liter saja sudah cukup, Nak. Terima kasih, Nak atas bantuannya,”

“Nggak apa-apa kok, Kek. Saya malah senang bisa membantu Kakek.”

Edan! Sungguh aku tak mengira, kok bisa kata-kata bijak menguar dengan lancar dari mulutku? Masihkah tubuhku yang membiasa mencopet ini menyisa sekerat naluri?

“Nak, boleh Kakek minta tolong lagi…,” kata si Kakek setelah aku selesai menuang bensin.

Aku menatap wajah si Kakek yang nampak sedikit pucat dengan dahi berkerut. Kentara sekali, gurat kelelahan menghias wajahnya yang berselimut keringat.

“Iya, Kek,”

“Tolong antarkan Kakek pulang, rasanya Kakek sudah nggak kuat lagi naik motor, rumah Kakek udah dekat kok, paling tiga kiloan dari sini,”

“Baiklah, Kek,” sambil menganggukkan kepala.

***

Tak kusangka, ternyata si Kakek memiliki warung makan yang cukup besar di samping rumahnya yang berada di pinggiran jalan besar. Sepertinya warung makan itu cukup laris, terlihat dari banyaknya motor dan beberapa mobil tergeletak di halaman depan warung.

Pun sama sekali tak kusangka, di pagi menjelang siang ini, perutku bisa terisi oleh makanan enak-enak sekaligus halal. Ya, aku berani menjamin kehalalannya karena makanan yang masuk ke dalam perutku saat ini bukan makanan yang kubeli dari hasil mencopet, seperti sebelum-sebelumnya. Tadinya aku mau buru-buru pulang, tapi si Kakek memaksaku menunggu barang sebentar di ruang tamu rumahnya. Dan ternyata, si Kakek tengah menyuruh salah satu pelayannya untuk menyiapkan makanan buatku.

***

“Kalau begitu, saya permisi dulu. Terima kasih atas semuanya, Kek,” pamitku beberapa menit setelah selesai makan dan ngobrol sejenak.

“Justru Kakeklah yang harusnya berterima kasih, Nak. O,iya, ini uangnya yang buat beli bensin, terima kasih ya, Nak,” si Kakek mengeluarkan selembar uang limapuluhribuan dari saku bajunya dan menyorongkannya ke arahku.

“Eee..eh, nggak usah, Kek,” aku berusaha menolak. Bukannya tak mau, entahlah…, aku merasa sungkan untuk meraihnya.

“Jangan menolak rezeki, Nak,” si Kakek mendekat lantas menyelipkan uang tersebut ke saku bajuku.

“Ta…tapi ini kebanyakan, Kek,” aku berusaha berkelit dengan menutup saku bajuku.

“Udah, terima saja Nak, anggaplah ini balas jasa dari Kakek. Ayo.., nggak baik menolak rezeki,” sambil memasukkan paksa uang itu ke dalam saku bajuku.

Dan, aku tak bisa menolaknya lagi.

Dalam perjalanan pulang, setelah sebelumnya mampir ke toko kelontong guna melunasi hutang bensin, mengambil KTP, membeli dua kilo beras dan setengah kilo telor, wajah keriput si Kakek terus menari-nari dalam benakku.

Kedua sudut bibirku lantas mengembang, saat teringat tawaran si Kakek sebelum aku meninggalkan rumahnya. Ya, aku pasti mau Kek! Aku pasti mau menerima tawaran itu; menjadi pelayan di warung makannya yang laris itu. Tak apalah aku menjadi pelayan. Aku sudah lelah menjadi pencopet. Aku ingin hidup tenang dan lebih baik lagi, Kek.

Sejurus lalu, kelebat wajah keriput Emak mengawang di kedua pelupuk mataku. Ah, rasanya sungguh tak sabar ingin lekas tiba di rumah. Aku pastikan wajah Emak akan berubah mencerah saat ku mencerita tentang pekerjaan baruku nanti. Pun dengan wajah riang kedua adikku yang akhirnya bisa kembali merasakan nikmatnya makan nasi dengan lauk telor mata sapi. (SELESAI. Nikmati sajian cerpen Nida selanjutnya di hari Jumat, 4 Maret 2011!)

***

Banjarmasin – Kebumen 2010

Sumber: Annida

look this

2011
02.25

facebook

kulon

uthie

Pengembangan Masyarakat

Hello world!

2011
02.25

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!